Rabu, 22 Juni 2011

Pak Tua Buttutala

oleh my sister Ernaeda Naharuddin


Namanya pak Mansyur. Pria jelang 60 tahun ini masih sering muncul di Sekolah-sekolah dasar di kecamatan Malunda, meski ia tidak lagi memiliki jam mengajar. Ia datang pagi-pagi, dengan baju rapi menemui guru-guru, kepala sekolah dan anak didik. Sesekali ia menyempatkan diri menengok kelas dan nyeletuk dikit – dikit. Suara besarnya dan lelucon-leluconnya adalah warna tersendiri setiap kali ia datang. Bagi sebagian rekannya ia adalah teman yang menyenangkan, mantan kepala sekolah yang bertanggung jawab. Namun sebagian lain menganggapnya sakit jiwa.


Sore itu saya tiba di Kecamatan terjauh di Majene, Sulawesi Barat, setelah berkendara selama 3 jam dan diguyur hujan sepanjang jalan. Ini kali pertama saya berada di tempat itu. Tempat pertama yang saya tuju sebagai orang asing adalah SPBU. Di sana saya mulai menghubungi kontak yang diberikan kepala bagian bidang pendidikan dasar. Tapi karena wilayah ini memang sangat miskin sinyal, tidak satupun yang berhasil saya hubungi. Karena tidak bisa menemukan alamat yang diberikan melalui sms, sesaat sebelum berangkat, saya putuskan untuk menunggu di kedai depan SPBU. Saya sengaja tidak bergeming, karena tempat ini sangat gampang untuk saya gambarkan ketika nantinya berhasil menghubungi salah satu kepala sekolah.

Setelah melewati situasi yang pelik akibat minimnya signal, akhirnya saya bisa bertemu dengan salah satu kepala sekolah dan langsung merancang jalur survey untuk dua lokasi sekolah. Menurut Pak Najamuddin, salah satu sekolah berada di tempat yang sangat sulit dijangkau dengan kendaraan. Akhirnya, berbagai kemudahan ditawarkan mengingat saya seorang perempuan yang mungkin tidak terbiasa dengan hutan dan jalan yang buruk.

Tapi di tengah pembicaraan, seorang kurir yang juga kepala sekolah SD Buttutala datang dan memaksa saya untuk bertemu dengan Pengawas SD. Karena merasa dipaksa dan tidak sesuai dengan pesan kepala bagian pendidikan dasar, maka saya berangkat dengan tenggorokan sakit menahan kesal dan marah. Kepala SD Buttutala mengatakan, Pengawas SD berkeinginan besar bertemu dan membicarakan hal yang sangat penting. Penting, mendesak dan sangat memaksa. Baiklah jagoan, saya juga ingin melihat seberapa kerasnya kau.

 Lalu saya bertemu dengannya dan kemarahannya. Bicaranya yang meledak-ledak dan kecurigaannya yang berlebihan. Ketersinggungannya karena tidak dijumpai terlebih dahulu dan tuntutan-tuntutannya. Saya biarkan dia menumpahkan semua dan menunjukkan kekuatannya di depan dua kroconya yang mengantar saya tadi. Semakin saya diam dan tersenyum semakin besar suaranya. Mungkin ia merasa menang.

Setelah ia menghabiskan semua kata-katanya, giliran saya.
“Pak Mansyur, ijinkan saya menjelaskan. Tapi jangan memotong pembicaran saya! Apakah bisa seperti itu?” kata saya dengan lantang. Sebenarnya saya ketar ketir juga. Bagaimana kalau dia langsung mengusir saya? Tapi dia diam mendengar suara saya yang lantang. Dua pria yang mengantar saja juga. Dua anaknya yang lulusan universitas juga.
“silakan mi!” katanya,  kembali dengan gayanya yang jumawa. Penjelasan demi penjelasan didengarnya, sampai akhirnya suasana menjadi cair.
Sebelum pulang, pak tua Mansyur kembali berulah. Dia akan mengantar saya ke lokasi sulit, tapi harus dengan jalan kaki, dan berangkat pagi buta, tepat setelah solat subuh. Oh tuhan, daerah ini konon katanya banyak sihir dan guna-guna. Sekarang saya akan berjalan kaki di tengah hutan sejauh 5 kilometer tanpa penerangan dan dengan orang asing yang awalnya tidak menerima saya. Opsi saya untuk jalan sendiri dengan guide seorang surveyor project lain ditolak mentah-mentah dengan alasan, kondisinya sangat sulit dan tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan, termasuk motor trail. Alamak.

Saya pamit dan menunjukkan sikap kuat meski dalam hati saya merasa tidak sanggup. Malamnya saya tidak bisa tidur memikirkan beratnya pendakian menuju sekolah sambil meredam redam amarah. Ash shabru yu’inu ‘alaa kulli amalin. Kesabaran membantu dalam setiap pekerjaan.

Subuhnya, saya sudah siap. Saya tidak akan membiarkan dia mendapati saya sebagai orang kota yang malas dan tidak punya niat besar untuk membantu sekolah dasar binaannya. Ia tiba tepat seperti katanya. Pukul  5.30 pagi. Saya merapal semua doa lalu berserah kepada Allah. Saya berangkat bersama, menuju pinggir hutan. Memarkir motor di samping sebuah rumah yang senyap karena pemilik rumahnya dan tetangga-tetangga sekitarnya masih terlelap. Perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki melewati sawah sejauh 1 kilometer menuju kaki gunung. Kami sempat melewati sebuah keluarga yang sedang duduk di berandanya menikmati kopi. Mereka menatap saya. Saya juga menatapnya, tersenyum dan memperlihatkan wajah saya. Berharap mereka bisa segera merekam sosokku,di subuh yang mencekam sebagai Perempuan kecil yang terancam.

Subuh itu tanah basah, becek dan dingin. Berkali-kali saya terpeleset. Lumpur sudah tercetak jelas di lutut, lengan, telapak tangan dan celanaku. Berkali-kali saya mengutuk dalam hati. Kenapa pria tua ini memaksa saya melewati rute ini? Apakah dia tipe psikopat yang ingin menyiksa pendatang dan nantinya mengatakan bagaimana lemahnya saya dan betapa saya tidak mungkin bisa membantu? Astagfirullah. Kuperbaiki niat, kukemas semangatku dan melanjutkan perjalanan.

Tapi benar kata kawanku jaman kuliah dulu. Hutan dan gunung bisa membuka jati diri orang sebenarnya. Pak tua berseragam hijau ini tidak berhenti bercerita dan sedikit demi sedikit memperlihatkan kelembutan hatinya. Bagaimana kecintaannya mengajar, bagaimana orang lain di kabupaten berusaha menyingkirkannya. Ia kecewa pada sistem pendidikan sekarang, tapi tidak punya kuasa melakukan perubahan. Guru teladan  daerah terpencil jaman dulu ini mulai tersingkir saat pergantian pemimpin di daerahnya. Ia melewati semua jalur namun tidak terpilih menjadi kepala UPTD di akhir karirnya karena tidak punya kedekatan dengan pembuat kebijakan
“ mereka yang sekarang menempati jabatan di (kecamatan-red) Malunda ini adalah orang-orang yang dekat dengan api” katanya berapi api. “siapa diantara mereka yang pernah mengunjungi SD Buttutala ini? Tidak ada! Karena mereka tidak peduli”  demikian tambahnya.

Setelah melewati 2 kilometer pendakian pertama, kepala sekolah Buttutala menyusul kami. Memakai seragam hijau yang sama dan sepatu karet warna putih yang sama pula. Satu yang berbeda karena nafasnya tersengal. Kami tidak. Kami menyusuri air terjun sambil merangkak karena kondisi tanah yang licin. Jika hari ini saya menyerah, maka saya pantas malu pada guru-guru uzur yang menemani saya sekarang. Karena mereka harus melewati rute ini setiap hari sepanjang tahun.

Sambil berjalan, pak Mansyur menyulut rokoknya dan melanjutkan ceritanya. Tentang kekecewaannya karena SD binaannya selalu tidak kebagian bantuan fisik, sementara bangunan sekolah mulai doyong. Tentang guru-guru yang tidak serius dan selalu lari di bulan-bulan ke empat kelima. Tentang tidak adanya evaluasi kinerja dan penghargaan untuk guru terpencil seperti mereka. Mereka berbakti dan terlupakan.
7.30 pagi kami tiba di puncak Buttutala. Kami disambut matahari hangat, tawa bocah-bocah berseragam merah putih dan bertelanjang kaki. Semua letih tanggal. Keluh kesah tertinggal di 8 anak sungai di bawah sana.
Sebelum meninggalkan anak-anak dan guru-guru, Pak Mansyur menitip pesan. Ia tidak bisa ikut menemani saya ke SD berikutnya. Bukan karena ia tidak sanggup. Tapi ia menghindari pertemuan dengan Kepala UPTD. Menurut beberapa orang, mereka berdua memang tidak pernah akur. Tidak pernah sepaham. Di bawah lambaian merah putih, ia berpesan, semoga sekolahnya terpilih dan anak-anak gunung bisa mendapatkan tenaga pengajar yang inspiratif. “biar tidak dibodo’-bodoki (dibodoh-bodohi) orang nak, seperti saya” katanya, kali ini dengan lembut. Kami berpisah di situ, dia melepaskan saya, bergabung dengan anak-anak SD di dalam kelas.

Saya melanjutkan perjalanan dengan perasaan lega. Di SD berikutnya, saya disambut oleh Kepala UPTD Malunda dengan takzim. Ia salut karena saya bisa melewati jalur tidak biasa tapi bisa tetap fit sampai di sekolah berikutnya. Ia tidak tahu, bahwa sebelum saya mulai menapak di kaki gunung, pak Mansyur membisikkan sebuah rahasia kekuatan. Hanya saya, pak Mansyur dan Tuhan yang tahu.

singgah mencuci sepatu di anak sungai pertama sambil mendinginkan otot kaki
pengajar-pengajar tangguh yang terlupakan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar